Monday, January 2, 2017

KARAKTERISTIK KONSELOR DAN KLIEN DALAM BIMBINGAN KONSELING ISLAM


KARAKTERISTIK KONSELOR DAN KLIEN DALAM BIMBINGAN KONSELING ISLAM


Pada prinsipnya, dari segi professional dan ilmiah, karakteristik konselor agama tidak jauh berbeda kualitas kemampuanya dengan konselor professional, karena pada esensinya konseling adalah satu
Konselor agama adalah orang yang menguasai ilmu bimbingan konseling dalam kaitanya dengan pelayanan agama kepada manusia, karena permasalahan yang ditanganinya adalah masalah keberagamaan manusia (klien) dengan menggunakan pendekatan bimbingan dan konseling , khususnya bimbingan dan konseling agama. Sedang kan konselor umum misalnya konselor sekolah adalah orang yang menguasai ilmu bimbingan dan konseling dalam kaitanya dengan pelayanan pendidikan disekolah. Kedua jenis konselor tersebut tidak ada bedanya dari segi kemampuan ilmiah dan profesiona ilmu bimbingan dan konseling. Baik pelayanan agama maupun pelayanan pendidikan sama-sama menghendaki supaya konselor memiliki sifat ilmiah, keahlian dan professional dalam pekerjaan dan kegiatannya seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadis berikut:


Artinya:
            Apabila suatu pekerjaan diserahkan pengelolaan dan pelaksanaanya kepada oaring yang bukan ahlinya, maka tunggu sajalah kehancuran pekerjaan itu.(Abu Bakar al-Sayutiy: Jami’u al Shagir 1)
Istilah profesional secara konseptual memiliki tiga pengertian yang saling berkaitan antara swatu dan lainnya sebagai berikut:
  1. berhububgan dengan keahlian(keterampilan hidup). Dalam pengertian ini, orang yang professional adalah orang yan memiliki dasar pendidikan spesialis, kemampuan intelektual, dan life skill dengan bidang tugas dan pekerjaan yang ia laksanakan.
  2. profesioanl berhubungan dengan rasa taqnggung jawab dan sifat amanah. Dalam bimbingan dan konseling, kedua hal ini berhubungan erat dengan ahlak, adab, dank ode etik yang ada dalam dunia konseling. Jadi dapat dikatakan bahwa profil konselor professional dalam konsep kedua ini adalah konselor yang memelihara dan mengamalkan etika standar atau kode etik konseling, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan amanah dengan keprofesionalanya, baik terhadap Allah, sesama manusia, alam lingkungan, maupun dengan diri sendiri.
  3. professional juga berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam bekerjasama dengan orang lain dalam bidang tugas dan tanggungjawab yang ia embank dalam memperoleh keselamatan dean rasa sukses dalam profesioanl.
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa profil konselor professional itu adalah profil konselor    ang memiliki keahlian dan keterampilan, rasa tanggungjawab dan amanah, serta kemampuan berkerjasama untuk orang lain dengan maksud dan kepentingan pelayanan bimbingan dan konseling agama.
Profil konselor profisional sangat diperlukan dalam pengembangan pendidikan dan dakwah islam melalui kegiatan bimbingan dan konseling/bimbingan dan konseling agama. Hanya dengan profil konselor profisionallah usaha dan kegiatan bimbingan dan konseling/bimbingan dan konseling agama untuk pendidikan dan dakwah dapat digunakan dan berhasil guna dalam mencapai tujuan pendidikan dan dakwah.
Hubungan dengan bimbingan dan konseling agama Islam, profil konselor agama adalah profil konselor profisional (konselor agama profisional) yang memiliki plus keahlian ilmu agama, seperti ilmi tauhid, akhlak dan taswauf, ibadah dan syariah, serta ilmu agama yang ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern, seperti psikologi agama dan sosialogi agama maupun antropologi agama. Dapat digambarkan sementara bahwa profil konselor profisional ini adalah konselor yang memiliki kepribadian yang kuat dan mandiri dalam beragama, konsep psikologikal, kesehatan mental yang baik dalam beragama, keahlian dan keterampilan konseling dalam kaitannya dengan agama, rasa tanggung jawab dan sifat amanah, berkemampuan dalam berkerjasama dengan orang lain atas dasar keimanan dan ketakwaan. Perlu ditegaskan disini bahwa keahlian dan keterampilan agama itu adalah nomor satu dalam profil agama konselor agama, karena isi bimbingan dan konseling agama itu aqdalah pelayanan keberagamaan manusia. Seorang konselor saja tidak akan bias melayani masalah keberagamaan kliennya, kalau ia tidak punya wawasan dan persepsi yang baik tentang keagamaan.
Konselor agama professional sebagai mana yang diisyaratkan oleh Al-Qur’an memiliki kedalaman ilmu agama Islam sehingga dengan demikian ia bisa memberikan bimbingan dan peringatan kepada manusia. seperti surat di bawah ini:
Artinya:
      Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberap orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Berdasarkan ayat di atas dapat dikatakan bahwa kalau seorang konselor agama itu sudah memiliki kedalaman ilmu agama, maka ia dengan mudah dan menyenangkan dapat melakukan pelayanan bimbingan dan konseling agama kepada klienya sebaik dan seoptimal mungkin.
Sesungguhnya bimbingan konseling agama adalah pendekatan dan metode agama yang amat psikologis mental dalam pengembangan pendidikan agama dan dakwah agama islam untuk mewujudkan manusia yang mantap dalam beragama serta memiliki kondisi dan kesehatan jiwa (imtak) yang tinggi.
Sifat dakwa dan pendidikan agama yang menyejukan dan meneduhkan, psikologi dan efektif, hanya akan terwujud dalam jiwa audien dan peserta didik, kalau kegiatan keduanya disampaikan dalam bahasa bimbingan dan konseling agama. Dengan kata lain sosok Da’i atau konselor, mubaligh professional, dan guru bimbingan agama adalah sosok yang diperlukan dan dibutuhkan dalam pengembangan dan pendidikan agama dan dakwah agama islam yang penuh dengan kebaikkan (rahmah), hikmah, mau’izhah hasanah, dan muzadalah ahsan. Karena dengan cara demikianlah bisa diperbaiki dan ditinggikan citra pelaksanaan pendidikan agama dan pendidikan Islam yang selama ini terkesan tidak mengenakkan, seperti menggurui, tidak menyejukan dan memaksa tanpa ampun.

Kesimpulan
Konselor agama adalah orang yang menguasai ilmu bimbingan konseling dalam kaitanya dengan pelayanan agama kepada manusia, karena permasalahan yang ditanganinya adalah masalah keberagamaan manusia (klien) dengan menggunakan pendekatan bimbingan dan konseling , khususnya bimbingan dan konseling agama. Sedang kan konselor umum misalnya konselor sekolah adalah orang yang menguasai ilmu bimbingan dan konseling dalam kaitanya dengan pelayanan pendidikan disekolah. profil konselor professional itu adalah profil konselor orang memiliki keahlian dan keterampilan, rasa tanggungjawab dan amanah, serta kemampuan berkerjasama untuk orang lain dengan maksud dan kepentingan pelayanan bimbingan dan konseling agama.

       

Monday, December 26, 2016

UPAYA GURU PEMBIMBING DALAM MENANGGULANGI KESULITAN BELAJAR SISWA YANG AKTIF DALAM ORGANISASI SEKOLAH


UPAYA GURU PEMBIMBING DALAM MENANGGULANGI
KESULITAN BELAJAR SISWA YANG AKTIF
DALAM ORGANISASI SEKOLAH


A.     Latar Belakang
      sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan relevansi dan efisiensi  manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan local, nasional dan global sehingga peerlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan.
Dalam undang-undang No.20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional dicamtumkan bahwa :

         Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik ssecara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara[1].

Pada tahun 2003 terpancang memontum yang amat signifikan dalam pengembangan profesi BK yaitu pertama diberlakunya UU No. 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional yang didalamnya disebutkan bahwa konselor merupakan salah satu jenis tenaga pendidik sebagaimana guru, dosen, dan tenaga pendidik lainnya. Sebagaimana terdapat dalam pasal 1 ayat 1 dan pasa 1 ayat 6 bahwa tugas konselor sebagai pendidik adalah mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran.
Dilihat dari falsafah Pancasila, bahwa manusia harus memiliki azas kemanusiaan yang adil dan beradab, serta nilai-nilai ini secara bulat dan utuh mencerminkan azas kekeluargaan, cinta sesama, dan cinta keadilan. Maka untuk menciptakan manusia yang adil dan beradab maka perlunya pendidikan begitu juga jika dilihat dari segi harapan orang tua dan guru, mereka sangat menginginkan anak yang sukses dalam hidup ini, maka diperlukannya pendidikan. Jika kita lihat sekarang seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi cangging, maka tuntutan pekerja juga semakin meningkat dan persaingan kerja sangat ketat sekali, maka dari itu diperlukannya siswa yang berkualitas yang lahir dari pendidikan.
Guru pada dasarnya merupakan pendidik yang mampu mengembangkan perubahan tingkah laku anak didiknya sesuai dengan bakat dan minat mereka, sehingga dapat dikatakn guru tidak obahnya seperti dokter yang mampu mengobati penyakit pasiennya berdasarkan ilmu yang diperolehnya.

Setiap anak memiliki sejumlah motif atau dorongan yang berhubungan dengan kebutuhan biologi dan psikologi. Mereka senantiasa tekun melaksanakan berbagai kegiatan belajar[2]. Selain itu juga ada sebagian siswa yang kurang efektif dalam belajar, hal ini mempunyai sebab-sebab yang perlu diketahui untuk mendiagnosis kesulitan belajar.
Dalam penelitan ini ditegaskan bahwa: “Guru Merupakan satu-satunya sumber belajar, ia menjadi pusat bertanya.”[3]
Dari berbagai latar belakang pendidikan tidak jarang kita temui anak didik mengalami berbagai macam kesulitan karena keunikannya sebagai individu yang memang berbeda dengan yang lain. Untuk itu diperlukan diagnosis kesulitan belajar dan pengajaran perbaikan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar terutama siswa yang aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah .
OSIS Organisasi Siswa Intra Sekolah merupakan salah satu organisasi siswa di sekolah yang bukan hanya melatih siswa mengenai kepemimpinan, kemampuan berorganisasi, juga melatih disiplin yang pada akhirnya dapat memberikan keuntungan yang positif bagi siswa. Tentu dengan banyaknya kegiatan dalam menjalankan tugas-tugas organisasi tersebut mereka memiliki kesulitan belajar yang lumayan besar bahkan berdasarkan pengamatan penulis pengurus OSIS mengalami kesulitan belajar melebihi siswa yang tidak aktif dalam organisasi tersebut.
Berangkat dari hal tersebut mendorong penulis untuk melakukan penelitian dengan judul “UPAYA GURU PEMBIMBING DALAM MENANGGULANGI KESULITAN BELAJAR YANG AKTIF BERORGANISASI SEKOLAH”. Di SMP Negeri 1 Curup Selatan tahun ajaran 2010-2011.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut:
1.        Apa saja kesulitan belajar yang dialami siswa yang aktif berorganisasi sekolah di SMP Negeri 1 Curup Selatan?
2.        Apa upaya Guru Pembimbing dalam mengatasi kesulitan belajar yang aktif berorganisasi sekolah?
3.         
C.     Batasan Masalah
      Peneliti membatasi batasan masalahnya pada :
1.        kesulitan belajar yang dialami siswa yang aktif dalam organisasi sekolah di SMP NEGERI 1 Curup Selatan
2.        upaya guru pembimbing dalam mengatasi kesulitan belajar siswa yang  yang aktif dalam organisasi sekolah di SMP Negeri 1 Curup Selatan.



D.    Tujuan Penelitian
1.        Tujuan umum : untuk mengetahui upaya guru pembimbing dalam mengindentifikasi dan mengatasi kesulitan belajar siswa yang aktif dalam berorganisasi disekolah
2.        Tujuan Khusus : untuk mengetahui jenis kesulitan belajar yang dialami siswa dan mengetahui upaya yang dilakukan oleh guru pembimbing dalam mengidentifikasi kasus kesulitan belajar bagi siswa yang aktif berorganisasi di sekolah

E.  Manfaat Penelitian
Untuk menambah kontribusi ilmiah yang dapat dijadikan rujukan tentang Upaya Guru Pembimbing dalam mengatasi kesulitan belajar bagi siswa yang aktif berorganisasi di SMP Negeri 1 Curup Selatan

1. secara teoritis
Diharapkan dapat  menambah wawasan dan illmu pengetahuan khususnya mengenai Upaya Guru Pembimbing dalam mengatasi kesulitan belajar bagi siswa yang aktif berorganisasi. Keterengan yang diperoleh dari hasil penelitian dapat bermanfaat bagi kita semua sehingga guru pembimbing dapat mengidentifikasi kesulitan belajar siswanya serta ssegera mencari solusi pemecahan masalahnya.

2.  manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
         Berguna untuk menambah wawwasan, pengetahuan dan pengalaman     penulis dalam ilmu bimbingan dan konseling.

b. bagi pihak STAIN
         Sebagai bahan informasi bagi program bimbingan dan Konseling            dalam menyiapkan Mahasiswa sebagai calon konselor disekolah.
c.         Bagi pihak sekolah (Khususnya SMP Negari 1 curup selatan)
             Sebagai bahan masukan bagi pihak sekolah      tentang pentingya upaya            guru pembimbing dalam mengindentifikasi kesultan belajarnya.
d. Bagi guru Pembimbing
Diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan informasi      dan bahan masukan yang nantinya dapat dijadikan pertimbangan baik     dalam penyusunan program maupun dalam pelaksanaanya.
e. Bagi peneliti lain
         sebagai bahan acuan untuk membantu peneliti lain apabila nantinya         akan mengadakan penelitian lebih lanjut.




F. Definisi Operasional
Proposal ini berjudul “Upaya Guru Pembimbing Dalam Menanggulangi Kesulitan Belajar Siswa Yang aktif berorganisasi Sekolah SMP Negeri 1 Curup Selatan”. Supaya pembaca memahami judul diatas dan tidak menyimpang dari pengertian yang sebenarnya, dalam hal ini penulis akan menjelaska definisi yang sejelasnya.
1.   Upaya
Suatu usaha untuk mendorong pembaruan pendidikan dan membangun manusia manusia seutuhnya, serta mewujudkan suatu masyarakat belajar, didalam suatu upaya mengantisipasi masa depan, terutama yang berhubungan dengan perubahan nilai dan sikap, serta pengembangan sarana pendidikan.[4]
2.   Guru Pembimbing
sejalan dengan perkembangan tuntutan kebutuhan manusia dalam situasi tertentu atau sehubungan dengan bidang kajian tertentu orang tua tidak dapat memenuhi semua kebutuhan pendidikan anaknya, untuk itu mereka melimpahkan pendidikan anaknya kepada orang lain yaitu guru.
Guru adalah orang tua yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaan, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makluk Allah khalifah dipermukaan bumi sebagai makluk social dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.[5] Guru dalam penelitian ini adalah guru pembimbing.

3.   Mengatasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1991: 1005)  mengatasi adalah “Menanggulangi”. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa mengatasi adalah menanggulangi[6]
Upaya atau suatu proses menemukan kelemahan atau penyakit (weaknees disease) apa yang dialami seseorang melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya dan memberikan alternative pemecahan penyakit yang dialami.[7]
Dalam hal ini tugas dari seorang guru pembimbing dalam mengidentifikasi jenis dan karakternya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mencari alternative dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa tersebut karena aktif dalam organisasi sekolah.

4.   Kesulitan Belajar
Kesulitan adalah “keadaan yang sulit, sesuatu yang sulit, kesukaran.[8]
         Sedangkan belajar menurut Dahan adalah suatu proses dimana organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman[9]
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah keadaan atau sesuatu yang membuat sulit atau sukar sewaktu  melakukan kegiatan belajar..

G. Metodologi Penelitian
Selanjutnya yang amat penting dalam penelitian adalah menentukan metode penelitian. Berhasil tidaknya suatu penelitian dalam usaha menguji kebenaran suatu hipotesis, sangat tergantung pada ketetapan dalam menentukan metode yang digunakan. Metode penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian. Dalam metode penelitian dijelaskan tentang urutan suatu penelitian yang dilakukan yaitu dengan teknik apa dan prosedur bagaimana suatu penelitian dilakukan. Peneliti harus memahami dan menguasai metode penelitian agar hasil dari penelitian tidak diragukan.





DAFTAR PUSTAKA
Dahan, Teori-Teori Belajar, 1989 : 11
[1]  Depdiknas undang-undang RI. No.20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, Citra Utama, Bandung: 2000,hal. 7
[1] . Nur Ukhbiyati, Op. Cit. hal. 71
[1] . kamus Besar Bahasa Indonesi Depdikbud , 1991: 1005
[1] . Abin Syamsudin, Diagnosis Kesulitan belajar, Rineka cipta, Jakarta: 1999, hal 307
[1]   kamus Besar Bahasa Indonesi, Depdikbud , 1991: 971



[1]  Depdiknas undang-undang RI. No.20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, Citra Utama, Bandung: 2000,hal. 7
[2]. Zakiyah Darajat, Metode Khusus Pengajaran pengujuran Agama Islam,Jakarta: Bumi Aksara,1995 hal 40
[3].Umar Tirta Harja dan Lasvia, Pengantar pendidikan, Jakarta: Rieneka Cipta,2000, hal.254
[4].  Umar Tirta Harja, Op. Cit hal. 144
[5] . Nur Ukhbiyati, Op. Cit. hal. 71
[6] . kamus Besar Bahasa Indonesi Depdikbud , 1991: 1005
[7] . Abin Syamsudin, Diagnosis Kesulitan belajar, Rineka cipta, Jakarta: 1999, hal 307
[8]   kamus Besar Bahasa Indonesi, Depdikbud , 1991: 971
[9]   Dahan, Teori-teori Belajar 1989 :11

Saturday, May 18, 2013

Satuan kegiatan Pendukung (Satkung) Konferensi Kasus


SATUAN KEGIATAN PENDUKUNG
KONFERENSI KASUS

A. Topik permasalahan                         : membahas kasus narkoba yang dialami siswa  X
B. Bidang Bimbingan                            : Bimbimgam sosial
C. Jenis Layanan                                  : Konferensi kasus
D. Fungsi Layanan                                : pengentasan
E. Tujuan Layanan                                :  untuk  Menghasilkan keputusan cara terbaik bagi pemecahan  masalah yang dialami siswa
           
F. Sasaran Layanan                              : siswa Kelas XI.Ia SMA Negeri 2 Curup
G. Gambaran ringkas masalah               : Seperti biasa setiap habis pelaksanaan upacara, para wali kelas melakukan pengeledahan  terhadap semua siswa baik itu didalam tas maupun disaku dan tidak terkecuali video dalam handphone. Namun kali itu wali kelas mendapati seorang siswa membawa sejenis obat-obatan yang mencurigakan, dan setelah diperiksa secara teliti itu adalah narkoba, awalnya siswa yang berinisial X tidak mengakui namun setelah ditakut-takuti akhirnya siswa tersebut mengakuinya bahwa itu adalah obat terlarang “narkoba” siswa X juga mengakui dari mana barang haram tersebut ia dapatkan.
H. Tempat Penyelenggaraan                  : diruang BK
I.   Waktu,Tgl,Semester                        : 26 APRIL 2009 Semester 1
J . Penyelenggara Layanan                    : Konselor Sekolah
K. Konsultan                                        : -
L. Pihak-pihak yang disertakan                   : Kepala sekolah atau Koordinator BK/Konselor mengundang para peserta konferensi kasus, baik atas insiatif guru, wali kelas atau konselor itu sendiri. Mereka yang diundang adalah orang-orang yang memiliki pengaruh kuat atas permasalahan dihadapi siswa (konseli) dan mereka yang dipandang memiliki keahlian tertentu terkait dengan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli), seperti: orang tua, wakil kepala sekolah, guru tertentu yang memiliki kepentingan dengan masalah siswa (konseli), wali kelas, dan bila perlu dapat menghadirkan ahli dari luar yang berkepentingan dengan masalah siswa (konseli), seperti: psikolog, dokter, polisi, dan ahli lain yang terkait.

M. Bahan Dan keterangan dalam pertemuan      :
                        1. data konselinng
                        2. Data penyelenggaraan
                        3. Absensi Siswa
N.Penggunaan Hasil Konferensi Kasus           : konferensimenyimpulkanbeberapa rekomendas/keputusan berupa alternatif-alternatif untuk dipertimbangkan oleh konselor, para peserta, dan siswa (konseli) yang bersangkutan, untuk mengambil langkah-langkah penting berikutnya dalam rangka pengentasan masalah siswa  (konseli).

N. Rencana penilaian & tindak lanjut layanan : 
                                                                              - Keputusan yang diambil dalam konferensi bukan  bersifat      “mengadili” siswa yang bersangkutan,
                                                      - Menggunakan hasil analisis untuk melengkapi datadan memperkuat komitmen penanganan kasus
                                                               - Intensitas Pengentasan masalah
O. Keterkaitan Layanan ini dengan kegiatan Pendukung :
Setiap proses dan hasil konferensi kasus dicatat dan diadminsitrasikan secara tertib dan hasil layanan dimasukan  dalam Himpunan data

P. Catatan Khusus              :  - Dalam kondisi apa pun, kepentingan siswa (konseli) harus diletakkan di  atas segala kepentingan lainnya. Dan Peserta konferensi kasus menyadari akan tugas dan peran serta batas-batas kewenangan  profesionalnya.

                                                                                               

                                                                                                            Curup, 26 april 2009
                                                                                                            Perencana Layanan


                                                                                                            ( Toni Hartono, S.Pd.)