bisnis internet

Selasa, 21 Mei 2013

HUBUNGAN ANTARA SIKAP SISWA TERHADAP LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING DENGAN PRESTASI BELAJAR PADA SISWA SMP


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan masyarakat Indonesia bertujuan membangun manusia
Indonesia seutuhnya dan membangun seluruh masyarakat Indonesia. Manusia
merupakan kekuatan utama pembangunan dan sekaligus tujuan dari
pembangunan. Oleh karena itu, perlu adanya peningkatan kualitas manusia
sebagai sumber daya manusia (SDM).
Dalam usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM)
Indonesia, pendidikan merupakan kunci pokok untuk menjawab tantangan zaman.
Pendidikan merupakan proses untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia,
sekaligus mengangkat manusia dari berbagai ketinggalan. Melalui pendidikan,
selain diperoleh kepandaian berolah pikir, juga akan diperoleh wawasan baru yang
kesemuanya akan membantu upaya manusia untuk meningkatkan kualitas
hidupnya, baik sebagai pribadi yang dewasa maupun sebagai anak bangsa. Hal ini
sesuai dengan yang dikatakan oleh Cohn (dalam Mulyadi, 1997) bahwa
pendidikan merupakan salah satu penentu yang sangat penting dari kesuksesan
seseorang, baik secara sosial maupun secara ekonomi. Sarana untuk
melaksanakan pendidikan tersebut salah satunya adalah sekolah unggulan.
Penyelenggaraan sekolah unggulan di Indonesia sudah memiliki
landasan hukum yang kuat karena sesuai dengan UU RI No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab IV pasal 5 ayat 4 dinyatakan bahwa
“Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak
memperoleh pendidikan khusus” (Kartika, 2005).
Menurut Battersby (dalam Slameto, 2004) prestasi belajar siswa sebagai
tolak ukur keunggulan sekolah merupakan komponen terpenting sebagai
pertanggungjawaban sekolah. Untuk itu jaringan sekolah seperti kepala sekolah,
guru bidang studi, bimbingan dan konseling sekolah harus dapat memahami
komponen prestasi belajar diantaranya pengetahuan, kemampuan (keterampilan)
dan sikap (nilai, watak kecenderungan) yang bersifat mendasar dan bertahan lama
yang diperlukan oleh lulusan suatu program atau jurusan.
Dari awal, sekolah unggulan diharapkan dapat meningkatkan kualitas
pendidikan dan melahirkan anak didik yang unggul. Sekolah unggulan dapat
dimaknai sebagai sekolah yang secara terus menerus meningkatkan kualitas
kepandaian dan kreativitas anak didik sekaligus menggunakan sumber daya yang
dimiliki untuk mendorong prestasi anak didik secara optimal. Dengan demikian,
bukan hanya prestasi akademis yang ditonjolkan, melainkan juga potensi psikis,
etik, moral, religi, emosi, spirit, kreativitas, dan inteligensinya (Budisatyo, 2006).
Diselenggarakannya kelas akselerasi merupakan strategi khusus dari
pemerintah untuk menangani siswa-siswa yang memiliki keberbakatan akademik
agar mendapatkan perhatian dan pendidikan yang lebih khusus, yaitu melalui
pendidikan dan pembinaan di kelas akselerasi. Oleh karena itu didirikannya kelas
akselerasi diharapkan menjadi salah satu bentuk alternatif pendidikan yang
berwawasan kualitas di Indonesia. Persoalan kualitas sekolah merupakan
persoalan yang kompleks dan rumit, pertama karena belum ada konsep kualitas
yang diterima oleh sebagian besar ahli; kedua, faktor-faktor penyebab sulit untuk
diduga atau diramalkan dengan tepat, akibatnya variabel yang terlihat dalam
proses pendidikan tidak dapat dikontrol dengan baik. Menurut Zamroni (Slameto,
2004) penjelasan atau proses pendidikan atau PBM (Proses Belajar Mengajar)
sangat tergantung pada berbagai variabel seperti siswa, waktu, fasilitas guru dan
layanan yang diberikan oleh bimbingan dan konseling.
Kenneth dan Smith (dalam Slameto, 2004) mengemukakan bahwa
layanan bimbingan dan konseling di sekolah berperan penting bagi perkembangan
pribadi siswa, baik sosial, emosional maupun intelektualnya. Pada diri siswa akan
tumbuh motivasi, kesadaran dirinya dan kemampuan-kemampuannya sehingga
memberi peluang untuk sukses belajarnya. Terhadap semua itu pengaruh peran
layanan bimbingan dan konseling di sekolah yang paling kuat adalah terhadap
prestasi belajar siswa dan hubungan sosial yang harmonis antar siswa dan guru di
sekolah. Untuk itu agar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa perlu adanya
kerjasama antara siswa dan layanan bimbingan dan konseling di sekolah dengan
baik, industri di luar sekolah untuk perbaikan kualitas lulusannya.
Sehubungan dengan hal tersebut Sue (dalam Marsudi, 2002)
mengusulkan bahwa dalam layanan bimbingan dan konseling, konselor
menempatkan klien dalam konteks pribadi yang utuh. Konselor harus tahu
beberapa informasi khusus tentang faktor-faktor pembelajaran siswa,
perkembangan dan pengukuran otak, serta kecerdasan emosional yang
kesemuanya dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah unggulan.
Sekolah unggulan menempatkan guru pembimbing pada posisi yang
penting seperti memberikan layanan kepada siswa dengan memberi perhatian
yang lebih pada bimbingan belajar, tidak hanya pengentasan masalah, tapi juga,
pemeliharaan, pencegahan dan pengembangan yang sama pentingnya dan
kesemuanya itu agar dapat meningkatkan prestasi belajar anak didiknya, terutama
pada siswa akselerasi (Sumiyarso dkk, 2000).
Menurut Southern dan Jones (dalam Hawadi, 2004) program akselerasi
juga dapat berpotensi negatif terhadap para siswa-siswanya, meskipun memenuhi
persyaratan dalam bidang akademis, siswa akseleran kemungkinan tidak
berkembang secara sosial, fisik, dan emosional dalam tingkatan kelas tertentu,
karena bahan ajaran yang terlalu tinggi bagi siswa akseleran adakalanya akan
membuat mereka menjadi siswa yang tertinggal dibelakang kelompok teman
barunya dan akan menjadi siswa yang berprestasi sedang-sedang saja, bahkan
dapat dikatakan siswa akseleran yang gagal, selain itu karena siswa akseleran
terlalu didorong untuk berprestasi dalam bidang akademiknya, terkadang siswa
akseleran akan mengalami burn out dibawah tekanan yang ada dan kemungkinan
menjadi berprestasi dibawah potensinya (underachiever).
Menurut hasil penelitian Hawadi (2004) menunjukkan bahwa sekitar
sepertiga peserta didik yang dapat digolongkan sebagai siswa yang berbakat
(gifted and talented) dan masuk di dalam kelas akselerasi mengalami gejala
"prestasi kurang" (underachievement). Salah satu penyebabnya adalah lingkungan
belajar yang kurang menantang kepada mereka untuk mewujudkan
kemampuannya secara optimal dan kurangnya layanan yang diberikan oleh
bimbingan dan konseling terutama yang berkaitan dengan belajar, serta sikap
yang dimunculkan dari siswa terhadap layanan bimbingan dan konseling.
Layanan bimbingan dan konseling seharusnya direspon positif oleh siswa,
karena layanan ini sangat menguntungkan dan dapat membantu mereka dalam
menyelesaikan masalahnya namun kenyataannya banyak siswa yang merespon
negatif akan keberadaan layanan bimbingan dan konseling.
Ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Priyatno dan Anti
(1999) bahwa petugas bimbingan dan konseling sering dianggap oleh siswa
sebagai "polisi sekolah" yang harus menjaga tata tertib dan disiplin sekolah. Siswa
menganggap petugas bimbingan dan konseling sebagai petugas yang menangkap
siswa yang tidak mematuhi tata tertib sekolah atau melanggar disiplin sekolah.
Anggapan terhadap konselor yang demikian itu mengakibatkan siswa tidak mau
datang atas kemauannya sendiri kepada konselor apabila mereka memiliki
masalah, terutama masalah kesulitan belajar, karena siswa mengganggap bahwa
mereka yang datang kepada konselor berarti ia telah berbuat salah.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka rumusan masalah yang diajukan
dalam penelitian ini adalah, “Apakah ada keterkaitan antara sikap terhadap
layanan bimbingan dan konseling dengan prestasi belajar pada siswa kelas
akselerasi SMP unggulan ?." Dari rumusan masalah tersebut penulis berkeinginan
untuk mengkaji secara empiris dengan mengadakan penelitian berjudul
“Hubungan antara sikap terhadap layanan bimbingan dan konseling dengan
prestasi belajar pada siswa kelas akselerasi SMP unggulan”.

B. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1. Hubungan antara sikap terhadap layanan bimbingan dan konseling dengan
prestasi belajar pada siswa kelas akselerasi SMP unggulan.
2. Sumbangan sikap terhadap layanan bimbingan dan konseling pada prestasi
belajar siswa kelas akselerasi SMP unggulan.
3. Kondisi sikap terhadap layanan bimbingan dan konseling pada siswa kelas
akselerasi SMP unggulan.
4. Kondisi prestasi belajar pada siswa kelas akselerasi SMP unggulan.
C. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Bagi subjek penelitian, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi,
khususnya yang berkaitan dengan sikap terhadap layanan bimbingan dan
konseling dengan prestasi belajar pada siswa kelas akselerasi, sehingga
mampu memandang secara positif tentang layanan bimbingan dan konseling
dan lebih meningkatkan prestasi belajar.
2. Bagi bimbingan konseling di sekolah, hasil penelitian ini dapat menciptakan
pengembangan layanan bimbingan dan konseling serta mengajar yang
profesional melalui guru dan pembimbingnya dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa kelas akselerasi SMP unggulan.
3. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
sumbangan pengetahuan dan wacana pemikiran untuk mengembangkan,
memperdalam, memperkaya khasanah teoritis mengenai keterkaitan antara
sikap terhadap layanan bimbingan dan konseling dengan peningkatan prestasi
belajar pada siswa kelas akselerasi SMP unggulan, dan memberikan kerangka
pemikiran pada penelitian yang akan datang bagi ilmuwan psikologi
pendidikan.

UPAYA GURU PEMBIMBING DALAM MENANGGULANGI KESULITAN BELAJAR SISWA YANG AKTIF DALAM ORGANISASI SEKOLAH


UPAYA GURU PEMBIMBING DALAM MENANGGULANGI
KESULITAN BELAJAR SISWA YANG AKTIF
DALAM ORGANISASI SEKOLAH

A.     Latar Belakang
      sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan relevansi dan efisiensi  manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan local, nasional dan global sehingga peerlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah dan berkesinambungan.
Dalam undang-undang No.20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional dicamtumkan bahwa :

         Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik ssecara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara[1].

Pada tahun 2003 terpancang memontum yang amat signifikan dalam pengembangan profesi BK yaitu pertama diberlakunya UU No. 20 tahun 2003 tentang system pendidikan Nasional yang didalamnya disebutkan bahwa konselor merupakan salah satu jenis tenaga pendidik sebagaimana guru, dosen, dan tenaga pendidik lainnya. Sebagaimana terdapat dalam pasal 1 ayat 1 dan pasa 1 ayat 6 bahwa tugas konselor sebagai pendidik adalah mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran.
Dilihat dari falsafah Pancasila, bahwa manusia harus memiliki azas kemanusiaan yang adil dan beradab, serta nilai-nilai ini secara bulat dan utuh mencerminkan azas kekeluargaan, cinta sesama, dan cinta keadilan. Maka untuk menciptakan manusia yang adil dan beradab maka perlunya pendidikan begitu juga jika dilihat dari segi harapan orang tua dan guru, mereka sangat menginginkan anak yang sukses dalam hidup ini, maka diperlukannya pendidikan. Jika kita lihat sekarang seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi cangging, maka tuntutan pekerja juga semakin meningkat dan persaingan kerja sangat ketat sekali, maka dari itu diperlukannya siswa yang berkualitas yang lahir dari pendidikan.
Guru pada dasarnya merupakan pendidik yang mampu mengembangkan perubahan tingkah laku anak didiknya sesuai dengan bakat dan minat mereka, sehingga dapat dikatakn guru tidak obahnya seperti dokter yang mampu mengobati penyakit pasiennya berdasarkan ilmu yang diperolehnya.

Setiap anak memiliki sejumlah motif atau dorongan yang berhubungan dengan kebutuhan biologi dan psikologi. Mereka senantiasa tekun melaksanakan berbagai kegiatan belajar[2]. Selain itu juga ada sebagian siswa yang kurang efektif dalam belajar, hal ini mempunyai sebab-sebab yang perlu diketahui untuk mendiagnosis kesulitan belajar.
Dalam penelitan ini ditegaskan bahwa: “Guru Merupakan satu-satunya sumber belajar, ia menjadi pusat bertanya.”[3]
Dari berbagai latar belakang pendidikan tidak jarang kita temui anak didik mengalami berbagai macam kesulitan karena keunikannya sebagai individu yang memang berbeda dengan yang lain. Untuk itu diperlukan diagnosis kesulitan belajar dan pengajaran perbaikan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar terutama siswa yang aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah .
OSIS Organisasi Siswa Intra Sekolah merupakan salah satu organisasi siswa di sekolah yang bukan hanya melatih siswa mengenai kepemimpinan, kemampuan berorganisasi, juga melatih disiplin yang pada akhirnya dapat memberikan keuntungan yang positif bagi siswa. Tentu dengan banyaknya kegiatan dalam menjalankan tugas-tugas organisasi tersebut mereka memiliki kesulitan belajar yang lumayan besar bahkan berdasarkan pengamatan penulis pengurus OSIS mengalami kesulitan belajar melebihi siswa yang tidak aktif dalam organisasi tersebut.
Berangkat dari hal tersebut mendorong penulis untuk melakukan penelitian dengan judul “UPAYA GURU PEMBIMBING DALAM MENANGGULANGI KESULITAN BELAJAR YANG AKTIF BERORGANISASI SEKOLAH”. Di SMP Negeri 1 Curup Selatan tahun ajaran 2010-2011.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan diteliti dirumuskan sebagai berikut:
1.        Apa saja kesulitan belajar yang dialami siswa yang aktif berorganisasi sekolah di SMP Negeri 1 Curup Selatan?
2.        Apa upaya Guru Pembimbing dalam mengatasi kesulitan belajar yang aktif berorganisasi sekolah?
3.         
C.     Batasan Masalah
      Peneliti membatasi batasan masalahnya pada :
1.        kesulitan belajar yang dialami siswa yang aktif dalam organisasi sekolah di SMP NEGERI 1 Curup Selatan
2.        upaya guru pembimbing dalam mengatasi kesulitan belajar siswa yang  yang aktif dalam organisasi sekolah di SMP Negeri 1 Curup Selatan.



D.    Tujuan Penelitian
1.        Tujuan umum : untuk mengetahui upaya guru pembimbing dalam mengindentifikasi dan mengatasi kesulitan belajar siswa yang aktif dalam berorganisasi disekolah
2.        Tujuan Khusus : untuk mengetahui jenis kesulitan belajar yang dialami siswa dan mengetahui upaya yang dilakukan oleh guru pembimbing dalam mengidentifikasi kasus kesulitan belajar bagi siswa yang aktif berorganisasi di sekolah

E.  Manfaat Penelitian
Untuk menambah kontribusi ilmiah yang dapat dijadikan rujukan tentang Upaya Guru Pembimbing dalam mengatasi kesulitan belajar bagi siswa yang aktif berorganisasi di SMP Negeri 1 Curup Selatan

1. secara teoritis
Diharapkan dapat  menambah wawasan dan illmu pengetahuan khususnya mengenai Upaya Guru Pembimbing dalam mengatasi kesulitan belajar bagi siswa yang aktif berorganisasi. Keterengan yang diperoleh dari hasil penelitian dapat bermanfaat bagi kita semua sehingga guru pembimbing dapat mengidentifikasi kesulitan belajar siswanya serta ssegera mencari solusi pemecahan masalahnya.

2.  manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti
         Berguna untuk menambah wawwasan, pengetahuan dan pengalaman     penulis dalam ilmu bimbingan dan konseling.

b. bagi pihak STAIN
         Sebagai bahan informasi bagi program bimbingan dan Konseling            dalam menyiapkan Mahasiswa sebagai calon konselor disekolah.
c.         Bagi pihak sekolah (Khususnya SMP Negari 1 curup selatan)
             Sebagai bahan masukan bagi pihak sekolah      tentang pentingya upaya            guru pembimbing dalam mengindentifikasi kesultan belajarnya.
d. Bagi guru Pembimbing
Diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan, dan informasi      dan bahan masukan yang nantinya dapat dijadikan pertimbangan baik     dalam penyusunan program maupun dalam pelaksanaanya.
e. Bagi peneliti lain
         sebagai bahan acuan untuk membantu peneliti lain apabila nantinya         akan mengadakan penelitian lebih lanjut.




F. Definisi Operasional
Proposal ini berjudul “Upaya Guru Pembimbing Dalam Menanggulangi Kesulitan Belajar Siswa Yang aktif berorganisasi Sekolah SMP Negeri 1 Curup Selatan”. Supaya pembaca memahami judul diatas dan tidak menyimpang dari pengertian yang sebenarnya, dalam hal ini penulis akan menjelaska definisi yang sejelasnya.
1.   Upaya
Suatu usaha untuk mendorong pembaruan pendidikan dan membangun manusia manusia seutuhnya, serta mewujudkan suatu masyarakat belajar, didalam suatu upaya mengantisipasi masa depan, terutama yang berhubungan dengan perubahan nilai dan sikap, serta pengembangan sarana pendidikan.[4]
2.   Guru Pembimbing
sejalan dengan perkembangan tuntutan kebutuhan manusia dalam situasi tertentu atau sehubungan dengan bidang kajian tertentu orang tua tidak dapat memenuhi semua kebutuhan pendidikan anaknya, untuk itu mereka melimpahkan pendidikan anaknya kepada orang lain yaitu guru.
Guru adalah orang tua yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaan, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makluk Allah khalifah dipermukaan bumi sebagai makluk social dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.[5] Guru dalam penelitian ini adalah guru pembimbing.

3.   Mengatasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1991: 1005)  mengatasi adalah “Menanggulangi”. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa mengatasi adalah menanggulangi[6]
Upaya atau suatu proses menemukan kelemahan atau penyakit (weaknees disease) apa yang dialami seseorang melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya dan memberikan alternative pemecahan penyakit yang dialami.[7]
Dalam hal ini tugas dari seorang guru pembimbing dalam mengidentifikasi jenis dan karakternya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mencari alternative dalam menanggulangi kesulitan belajar siswa tersebut karena aktif dalam organisasi sekolah.

4.   Kesulitan Belajar
Kesulitan adalah “keadaan yang sulit, sesuatu yang sulit, kesukaran.[8]
         Sedangkan belajar menurut Dahan adalah suatu proses dimana organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman[9]
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003: 2)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah keadaan atau sesuatu yang membuat sulit atau sukar sewaktu  melakukan kegiatan belajar..

G. Metodologi Penelitian
Selanjutnya yang amat penting dalam penelitian adalah menentukan metode penelitian. Berhasil tidaknya suatu penelitian dalam usaha menguji kebenaran suatu hipotesis, sangat tergantung pada ketetapan dalam menentukan metode yang digunakan. Metode penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian. Dalam metode penelitian dijelaskan tentang urutan suatu penelitian yang dilakukan yaitu dengan teknik apa dan prosedur bagaimana suatu penelitian dilakukan. Peneliti harus memahami dan menguasai metode penelitian agar hasil dari penelitian tidak diragukan.





DAFTAR PUSTAKA
Dahan, Teori-Teori Belajar, 1989 : 11
[1]  Depdiknas undang-undang RI. No.20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, Citra Utama, Bandung: 2000,hal. 7
[1] . Nur Ukhbiyati, Op. Cit. hal. 71
[1] . kamus Besar Bahasa Indonesi Depdikbud , 1991: 1005
[1] . Abin Syamsudin, Diagnosis Kesulitan belajar, Rineka cipta, Jakarta: 1999, hal 307
[1]   kamus Besar Bahasa Indonesi, Depdikbud , 1991: 971


[1]  Depdiknas undang-undang RI. No.20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, Citra Utama, Bandung: 2000,hal. 7
[2]. Zakiyah Darajat, Metode Khusus Pengajaran pengujuran Agama Islam,Jakarta: Bumi Aksara,1995 hal 40
[3].Umar Tirta Harja dan Lasvia, Pengantar pendidikan, Jakarta: Rieneka Cipta,2000, hal.254
[4].  Umar Tirta Harja, Op. Cit hal. 144
[5] . Nur Ukhbiyati, Op. Cit. hal. 71
[6] . kamus Besar Bahasa Indonesi Depdikbud , 1991: 1005
[7] . Abin Syamsudin, Diagnosis Kesulitan belajar, Rineka cipta, Jakarta: 1999, hal 307
[8]   kamus Besar Bahasa Indonesi, Depdikbud , 1991: 971
[9]   Dahan, Teori-teori Belajar 1989 :11

Jumat, 17 Mei 2013

Satuan kegiatan Pendukung (Satkung) Konferensi Kasus


SATUAN KEGIATAN PENDUKUNG
KONFERENSI KASUS

A. Topik permasalahan                         : membahas kasus narkoba yang dialami siswa  X
B. Bidang Bimbingan                            : Bimbimgam sosial
C. Jenis Layanan                                  : Konferensi kasus
D. Fungsi Layanan                                : pengentasan
E. Tujuan Layanan                                :  untuk  Menghasilkan keputusan cara terbaik bagi pemecahan  masalah yang dialami siswa
           
F. Sasaran Layanan                              : siswa Kelas XI.Ia SMA Negeri 2 Curup
G. Gambaran ringkas masalah               : Seperti biasa setiap habis pelaksanaan upacara, para wali kelas melakukan pengeledahan  terhadap semua siswa baik itu didalam tas maupun disaku dan tidak terkecuali video dalam handphone. Namun kali itu wali kelas mendapati seorang siswa membawa sejenis obat-obatan yang mencurigakan, dan setelah diperiksa secara teliti itu adalah narkoba, awalnya siswa yang berinisial X tidak mengakui namun setelah ditakut-takuti akhirnya siswa tersebut mengakuinya bahwa itu adalah obat terlarang “narkoba” siswa X juga mengakui dari mana barang haram tersebut ia dapatkan.
H. Tempat Penyelenggaraan                  : diruang BK
I.   Waktu,Tgl,Semester                        : 26 APRIL 2009 Semester 1
J . Penyelenggara Layanan                    : Konselor Sekolah
K. Konsultan                                        : -
L. Pihak-pihak yang disertakan                   : Kepala sekolah atau Koordinator BK/Konselor mengundang para peserta konferensi kasus, baik atas insiatif guru, wali kelas atau konselor itu sendiri. Mereka yang diundang adalah orang-orang yang memiliki pengaruh kuat atas permasalahan dihadapi siswa (konseli) dan mereka yang dipandang memiliki keahlian tertentu terkait dengan permasalahan yang dihadapi siswa (konseli), seperti: orang tua, wakil kepala sekolah, guru tertentu yang memiliki kepentingan dengan masalah siswa (konseli), wali kelas, dan bila perlu dapat menghadirkan ahli dari luar yang berkepentingan dengan masalah siswa (konseli), seperti: psikolog, dokter, polisi, dan ahli lain yang terkait.

M. Bahan Dan keterangan dalam pertemuan      :
                        1. data konselinng
                        2. Data penyelenggaraan
                        3. Absensi Siswa
N.Penggunaan Hasil Konferensi Kasus           : konferensimenyimpulkanbeberapa rekomendas/keputusan berupa alternatif-alternatif untuk dipertimbangkan oleh konselor, para peserta, dan siswa (konseli) yang bersangkutan, untuk mengambil langkah-langkah penting berikutnya dalam rangka pengentasan masalah siswa  (konseli).

N. Rencana penilaian & tindak lanjut layanan : 
                                                                              - Keputusan yang diambil dalam konferensi bukan  bersifat      “mengadili” siswa yang bersangkutan,
                                                      - Menggunakan hasil analisis untuk melengkapi datadan memperkuat komitmen penanganan kasus
                                                               - Intensitas Pengentasan masalah
O. Keterkaitan Layanan ini dengan kegiatan Pendukung :
Setiap proses dan hasil konferensi kasus dicatat dan diadminsitrasikan secara tertib dan hasil layanan dimasukan  dalam Himpunan data

P. Catatan Khusus              :  - Dalam kondisi apa pun, kepentingan siswa (konseli) harus diletakkan di  atas segala kepentingan lainnya. Dan Peserta konferensi kasus menyadari akan tugas dan peran serta batas-batas kewenangan  profesionalnya.

                                                                                               

                                                                                                            Curup, 26 april 2009
                                                                                                            Perencana Layanan


                                                                                                            ( Toni Hartono, S.Pd.)

Satuan Kegiatan Pendukung (satkung) Himpunan Data


NAMA : TONI HARTONO
NIM      : 0756129
PRODI  : BK. E \V
                                            SATUAN KEGIATAN PENDUKUNG
HIMPUNAN DATA

A. Topik permasalahan                         : Pengadministrasian AUM umum
B. Bidang Bimbingan                            : Bimbimgam pribadi
C. Jenis Layanan                                  : Himpunan Data
D. Fungsi Layanan                                : Pengungkapan Permasalahan Siswa
E. Tujuan Laanan                                  :
            1. mengindentifikasi masalah umum dan masalah yang dialami siswa
            2. Melihat masalah kelompok/kelas sesuai dengan bidang masalah
F. Sasaran Layanan                              : siswa Kelas XI.Ia SMA Negeri 2 Curup
G. Uraian Kegiatan dan
     Materi layanan                                 :
            1. Nama Instrumen                   : AUM Umum
            2. Jenis Instruman                     : Non-tes
            3. Penyusun Instrumen              : Tim AUM Umum
            4. Pokok-pokok isi Intrumen    : Masalah-masalah umum yang dialami siswa
                        a. memilih masalah umum yang dirasakan dari 9 klasifikasi masalah
                        b. Memilih masalah terberat dirasakan dari seluruh masalah yang ditandai
                        c. Menuliskan masalah lainyang tidak ada dalam buku AUM umum
                        d. Kemungkinan untuk membicarakan masalah dengan seseorang
            5. Pola pengerjaan soal             : Tulisan
            6. Pola pengadministrasian        : Kelompok klasikal siswa kelas XI.IA 2
H. Tempat Penyelenggaraan                  : diruang kelas XI.IA 2
I.   Waktu,Tgl,Semester                        : 26 APRIL 2009 Semester 1
J . Penyelenggara Layanan                    : Konselor Sekolah
K. Konsultan                                        : -
L. Pengolahan & Interprestasi Hasil       :
            1. Pengolah                              : toni hartoni
            2. Penginterpretasian                 : Toni hartono
M. Penggunaan Hasil                            :
            1. digunakan untuk                    ; siswa yang membutuhkan sesuai permasalahan
            2. Waktu penggunaan               ; Melihat keberhasilan penyelenggaraan konseling di SMA 2 curup
            3. Yang menggunakan               ; Konselor sekolah atau pihak lain yang mendapat izin
            4. Waktu Penggunaan               ; Relatif Pendek mengingat kesahihan data
            5. Tempat Penggunaan              ; Dilingkungan SMA N. 2 Curup
N. Rencana penilaian & tindak lanjut layanan :  Penilaian dilakukan setelah diolah dengan computer.   Setelah diperileh hasil dapat dilihat potret diri siswa yang dibagikan kepada masing-masing siswa     melalui konselor  sekolah yang memberikan bantuan.
O. Keterkaitan Layanan ini dengan kegiatan Pendukung :
            AUM PTSDL, Sosiometri.
P. Catatan Khusus                                : -
                                                                                               

                                                                                                                          Curup, 26 april 2009
                                                                                                            Perencana Layanan


                                                                                                                        ( Toni Hartono, S.Pd )

Kamis, 14 Maret 2013

KARAKTERISTIK KONSELOR DAN KLIEN DALAM BIMBINGAN KONSELING ISLAM


KARAKTERISTIK KONSELOR DAN KLIEN DALAM BIMBINGAN KONSELING ISLAM


Pada prinsipnya, dari segi professional dan ilmiah, karakteristik konselor agama tidak jauh berbeda kualitas kemampuanya dengan konselor professional, karena pada esensinya konseling adalah satu
Konselor agama adalah orang yang menguasai ilmu bimbingan konseling dalam kaitanya dengan pelayanan agama kepada manusia, karena permasalahan yang ditanganinya adalah masalah keberagamaan manusia (klien) dengan menggunakan pendekatan bimbingan dan konseling , khususnya bimbingan dan konseling agama. Sedang kan konselor umum misalnya konselor sekolah adalah orang yang menguasai ilmu bimbingan dan konseling dalam kaitanya dengan pelayanan pendidikan disekolah. Kedua jenis konselor tersebut tidak ada bedanya dari segi kemampuan ilmiah dan profesiona ilmu bimbingan dan konseling. Baik pelayanan agama maupun pelayanan pendidikan sama-sama menghendaki supaya konselor memiliki sifat ilmiah, keahlian dan professional dalam pekerjaan dan kegiatannya seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadis berikut:


Artinya:
            Apabila suatu pekerjaan diserahkan pengelolaan dan pelaksanaanya kepada oaring yang bukan ahlinya, maka tunggu sajalah kehancuran pekerjaan itu.(Abu Bakar al-Sayutiy: Jami’u al Shagir 1)
Istilah profesional secara konseptual memiliki tiga pengertian yang saling berkaitan antara swatu dan lainnya sebagai berikut:
  1. berhububgan dengan keahlian(keterampilan hidup). Dalam pengertian ini, orang yang professional adalah orang yan memiliki dasar pendidikan spesialis, kemampuan intelektual, dan life skill dengan bidang tugas dan pekerjaan yang ia laksanakan.
  2. profesioanl berhubungan dengan rasa taqnggung jawab dan sifat amanah. Dalam bimbingan dan konseling, kedua hal ini berhubungan erat dengan ahlak, adab, dank ode etik yang ada dalam dunia konseling. Jadi dapat dikatakan bahwa profil konselor professional dalam konsep kedua ini adalah konselor yang memelihara dan mengamalkan etika standar atau kode etik konseling, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dan amanah dengan keprofesionalanya, baik terhadap Allah, sesama manusia, alam lingkungan, maupun dengan diri sendiri.
  3. professional juga berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam bekerjasama dengan orang lain dalam bidang tugas dan tanggungjawab yang ia embank dalam memperoleh keselamatan dean rasa sukses dalam profesioanl.
Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa profil konselor professional itu adalah profil konselor    ang memiliki keahlian dan keterampilan, rasa tanggungjawab dan amanah, serta kemampuan berkerjasama untuk orang lain dengan maksud dan kepentingan pelayanan bimbingan dan konseling agama.
Profil konselor profisional sangat diperlukan dalam pengembangan pendidikan dan dakwah islam melalui kegiatan bimbingan dan konseling/bimbingan dan konseling agama. Hanya dengan profil konselor profisionallah usaha dan kegiatan bimbingan dan konseling/bimbingan dan konseling agama untuk pendidikan dan dakwah dapat digunakan dan berhasil guna dalam mencapai tujuan pendidikan dan dakwah.
Hubungan dengan bimbingan dan konseling agama Islam, profil konselor agama adalah profil konselor profisional (konselor agama profisional) yang memiliki plus keahlian ilmu agama, seperti ilmi tauhid, akhlak dan taswauf, ibadah dan syariah, serta ilmu agama yang ada kaitannya dengan ilmu pengetahuan modern, seperti psikologi agama dan sosialogi agama maupun antropologi agama. Dapat digambarkan sementara bahwa profil konselor profisional ini adalah konselor yang memiliki kepribadian yang kuat dan mandiri dalam beragama, konsep psikologikal, kesehatan mental yang baik dalam beragama, keahlian dan keterampilan konseling dalam kaitannya dengan agama, rasa tanggung jawab dan sifat amanah, berkemampuan dalam berkerjasama dengan orang lain atas dasar keimanan dan ketakwaan. Perlu ditegaskan disini bahwa keahlian dan keterampilan agama itu adalah nomor satu dalam profil agama konselor agama, karena isi bimbingan dan konseling agama itu aqdalah pelayanan keberagamaan manusia. Seorang konselor saja tidak akan bias melayani masalah keberagamaan kliennya, kalau ia tidak punya wawasan dan persepsi yang baik tentang keagamaan.
Konselor agama professional sebagai mana yang diisyaratkan oleh Al-Qur’an memiliki kedalaman ilmu agama Islam sehingga dengan demikian ia bisa memberikan bimbingan dan peringatan kepada manusia. seperti surat di bawah ini:
Artinya:
      Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberap orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
Berdasarkan ayat di atas dapat dikatakan bahwa kalau seorang konselor agama itu sudah memiliki kedalaman ilmu agama, maka ia dengan mudah dan menyenangkan dapat melakukan pelayanan bimbingan dan konseling agama kepada klienya sebaik dan seoptimal mungkin.
Sesungguhnya bimbingan konseling agama adalah pendekatan dan metode agama yang amat psikologis mental dalam pengembangan pendidikan agama dan dakwah agama islam untuk mewujudkan manusia yang mantap dalam beragama serta memiliki kondisi dan kesehatan jiwa (imtak) yang tinggi.
Sifat dakwa dan pendidikan agama yang menyejukan dan meneduhkan, psikologi dan efektif, hanya akan terwujud dalam jiwa audien dan peserta didik, kalau kegiatan keduanya disampaikan dalam bahasa bimbingan dan konseling agama. Dengan kata lain sosok Da’i atau konselor, mubaligh professional, dan guru bimbingan agama adalah sosok yang diperlukan dan dibutuhkan dalam pengembangan dan pendidikan agama dan dakwah agama islam yang penuh dengan kebaikkan (rahmah), hikmah, mau’izhah hasanah, dan muzadalah ahsan. Karena dengan cara demikianlah bisa diperbaiki dan ditinggikan citra pelaksanaan pendidikan agama dan pendidikan Islam yang selama ini terkesan tidak mengenakkan, seperti menggurui, tidak menyejukan dan memaksa tanpa ampun.

Kesimpulan
Konselor agama adalah orang yang menguasai ilmu bimbingan konseling dalam kaitanya dengan pelayanan agama kepada manusia, karena permasalahan yang ditanganinya adalah masalah keberagamaan manusia (klien) dengan menggunakan pendekatan bimbingan dan konseling , khususnya bimbingan dan konseling agama. Sedang kan konselor umum misalnya konselor sekolah adalah orang yang menguasai ilmu bimbingan dan konseling dalam kaitanya dengan pelayanan pendidikan disekolah. profil konselor professional itu adalah profil konselor orang memiliki keahlian dan keterampilan, rasa tanggungjawab dan amanah, serta kemampuan berkerjasama untuk orang lain dengan maksud dan kepentingan pelayanan bimbingan dan konseling agama.

       

KUNJUNGAN RUMAH


KUNJUNGAN RUMAH

A. PENDAHULUAN
Bottom of Form
            PROGRAM bimbingan dan konseling di sekolah di dalamnya terdapat salah satu bentuk layanan yaitu “home visit” atau kunjungan rumah. Layanan ini termasuk dalam Satuan Pendukung (Satkung) bagi layanan bimbingan dan konseling.
Layanan kunjungan rumah merupakan salah satu tugas atau tanggung jawab sekolah yang selama ini lebih banyak didele-gasikan kepada guru bimbingan dan konseling, yang kemudian dijadikan salah satu program bimbingan. Dengan demikian tugas layanan kunjungan rumah menjadi salah satu tugas yang harus dilaksanakan oleh guru pembimbing, sejauh layanan itu diperlukan. Layanan kunjungan rumah diprioritaskan bagi siswa yang mempunyai masalah, namun juga menjadi hak setiap siswa. Tentu disesuaikan dengan kebutuhan, waktu yang tersedia, dan yang paling pokok disesuaikan dengan masalah yang dihadapi oleh siswa. Layanan ini biasa dilaksanakan oleh guru pembimbing pada jam kerja. Namun, jika dilaksanakan pada jam kerja, biasanya guru pembimbing me-nemui kendala, yaitu tidak bisa bertemu dengan orangtua/wali dari siswa yang dikunjunginya. Oleh karena itu dibutuhkan “pengorbanan dan kerelaan” dari guru pembimbing untuk meluangkan waktu pada sore atau pada hari libur agar dalam melaksanakan kunjungan rumah bisa bertemu dengan orangtua/keluarga siswa yang bersangkut-an. Strategi ini akan memberi waktu yang lebih luas kepada guru pembimbing. Apalagi kalau permasalahan yang ingin diketahui data tambahannya oleh guru pembimbing menyangkut dengan kebiasaan siswa di rumah, maka strategi kedua ini lebih tepat. Oleh sebab itu waktu pelaksanaan layanan kunjungan rumah ini juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan. Sesuai dengan jenis dan nama layanan tersebut, maka guru pembimbing juga harus mereal-isasikan layanan kunjungan rumah. Layanan kunjungan rumah diperlukan misalnya kalau ada siswa yang malas atau tidak masuk sampai batas ketentuan yang diatur oleh sekolah. Oleh karena itu guru pembim-bing perlu segera mengadakan kunjungan rumah kepada siswa tersebut. Hal ini untuk segera menge-tahui keadaannya, apakah sakit atau ada kesulitan lainnya agar permasalahan yang dihadapi oleh siswa dapat segera diatasi.
Hal ini bisa terjadi karena bantuan dari orangtua/wali siswa itu sendiri. Perhatian orangtua/wali terhadap kedatangan guru pembimbing ke rumahnya sangat besar. \kunjungan guru pembim-bing ke rumahmerupakan suatu penghormatan yang sangat besar. Atas penghormatan/kunjungan dari guru pembimbing di atas, orangtua/wali akan memberikan balasan, berupa bantuan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi anaknya. Sehingga kadang-kadang layanan kunjungan rumah sering dijadikan “senjata pamungkas” bagi guru pembimbing dalam mengatasi masalah yang dihadapi siswanya.
Inilah maka penulis meng-analogikan guru pembimbing sebagai Arjuna, ksatria pandawa yang sakti mandraguna, dengan segala senjata dari para dewata. Salah satu senjata pamungkas dari Arjuna adalah Pasopati, di sini dianalogikan sebagai layanan kunjungan rumah tersebut.
Tujuan umum layanan kunjungan rumah antara lain guru/sekolah mengetahui secara pasti keberadaan siswa dalam lingkung-an keluarganya, kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan tempat tinggal siswa. Di sam-ping itu ada tujuan lain dalam pelaksanaan la-yanan ini yaitu menjalin relasi atau hubungan yang lebih akrab dengan siswa dan orangtua/keluarganya. Akrab, yang dimaksud adalah hubung-an pribadi yang wajar antara guru, murid dan orangtua, yaitu hubungan yang profesional dalam rangka menjalankan tugas. Dalam hubungan pribadi yang akrab dan tidak formal ini, guru pembimbing dapat menggali dan menerima aspirasi, informasi, data, keluhan dan sebagainya dari siswa/orangtua/wali. Situasi akrab dan santai memungkinkan siswa/orangtua lebih leluasa dalam menyampaikan uneg-uneg, gagasan-gagasan atau hal-hal lain. Tentu di sini guru pembimbing harus pandai dan cermat dalam upaya membuat suasana kunjungan rumah akrab dan santai.
Kekakuan hubungan antara orangtua/wali siswa dengan guru pembimbing mungkin akan terjadi karena masing-masing pihak berusaha menyelami perasaannya. Bagi siswa yang sedang mengalami masalah, keakuratan data pribadi siswa yang diperoleh dari kunjungan rumah ini sangat membantu untuk proses pemberian bantuan selanjutnya. Keakuratan data ini bisa didapat dari siswa yang bersangkutan, orangtua/wali atau orang-orang yang tinggal dalam keluarga tersebut.
Akan tetapi dibutuhkan kecermatan oleh guru pembimbimg dalam memilih dan memilah keterangan dari subyek kunjungan rumah. Karena bukan tidak mungkin orangtua/wali siswa yang dikunjungi akan berusaha memberikan keterangan yang bersifat manipulatif. Apalagi kalau orangtua/wali tahu anaknya mempunyai catatan pelanggaran tata tertib sekolah atau kesalahan lainnya, tentu mereka akan berusaha memberikan keterangan yang sifatnya menyembunyikan kesalahan anaknya. Manfaat lain yang didapat dari kunjungan rumah ini antara lain siswa merasa lebih diperhatikan oleh guru dan secara tidak langsung bisa menimbulkan keterikatan emosional. Keterikatan emosi antara siswa dan guru akan sangat membantu dalam proses pendampingan siswa di lain waktu. Sementara bagi guru pembimbing dengan sering melakukan kunjungan rumah tentu akan semakin memperkaya pengalam-an dan bisa semakin mengasah kemampuan dalam menyelami dan memahami karakteristik dan keunikan individu siswa dengan latar belakang keluarga dan lingkungannya masing-masing. Hal ini sangat diperlukan bagi guru pembimbing agar dalam proses pemberian bantuan dapat ditemukan dan dicari bersama siswa jalan keluar yang cocok dan pas dengan permasalahan yang dihadapi.
Untuk mencapai tujuan kunjungan rumah tersebut maka sebelum pelaksanaan perlu direncanakan dengan baik oleh guru pembimbing. Hal-hal yang perlu yang perlu direncanakan misalnya, waktu kunjungan. Penentuan pelaksanaan kunjungan perlu dipertimbangakn dari berbagai faktor. Misalnya subyek kunjungan berkaitan dengan informasi yang akan digali, apakah orangtua/wali atau siswa itu sendiri. Dengan demikian waktu yang ditentukan akan tepat. Kalau sekiranya orangtua/wali mempunyai pekerjaan yang banyak/sibuk, maka guru pembimbing perlu juga memberitahukan rencana kunjungan itu kepada mereka. Dengan demikian mereka sendiri yang akan menentukan waktu yang senggang dapat menerima kunjungan guru pembimbing. Untuk membatasi tema yang akan ditanyakan kepada subyek, perlu juga disusun pedoman pertanyaan yang akan diajukan.
Hal ini untuk mencegah jangan sampai pembicaraan jangan sampai keluar dari tema, sehingga ngelantur ke tema yang lain dan juga mencegah adanya pertanyaan yang terlupakan. Akan tetapi, perlu diperhatikan agar daftar pertanyaan yang disiapkan jangan sampai terlalu mengganggu jalannya pertemuan. Dan kalau bisa diseyogyakan agar subyek kunjungan jangan sampai tahu kalau jawaban pertanyaannya ditulis/dicatat oleh guru pembimbing. Biasanya kalau subyek tahu bisa saja merubah sikap dalam merubah pertanyaan, terutama dalam hal kerahasiaan jawaban.
Layanan kunjungan rumah merupakan bagian integral dari kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah untuk dapat memberikan bantuan bagi berhasilnya penyelesaian masalah yang dihadapi oleh anak didik. Hal ini akan terwujud apabila layanan tersebut dapat dilaksanakan oleh guru pembimbing dengan baik dan benar.

B.       PENGERTIAN
Kunjungan Rumah (P4) adalah upaya yang  dilakukan Konselor untuk mendeteksi kondisi  keluarga dalam  kaitannya dengan permasalahan anak/individu agar mendapat berbagai informasi  yang dapat digunakan lebih efektif.

C.       TUJUAN
1.       Umum
Diperolehnya data yang lebih lengkap dan akurat berkenaan dengan  masalah klien serta digalangnya komitmen  orangtua atau anggota keluarga lainnya dalam rangka penyelesaian masalah.
2.       Khusus
Agar terpahaminya permasalahan klien dan upaya pengentasannya. Dari ini dapat mencegahtimbulnya  masalah lagi serta dapat berlanjut untuk mewujudkan fungsi pengembangan dan pemeliharaan serta advokasi.

D.       KOMPONEN
1.       Kasus
Diidentifikasi terlebih dahulu dan dianalisis perlu tidak diadakannya Kunjungan Rumah sebagai tindak lanjut dari penanganan kasus tersebut.
2.       Keluarga
Yang hendaknya diperhatikan:
-->Orangtua/ wali
-->Anggota keluarga lain
-->Orang-orang yang  tinggal di lingkungan keluarga
-->Kondisi fisik rumah
-->Kondisi ekonomi dan hubungan social-emosoional
3.       Konselor
Sebagai penyelenggara layanan Kunjungan Rumah.

E.       ASAS
Yang pertama adalah asas kesukarelaan dan keterbukaan kepada klien untuk dilakukan Kunjungan Rumah. Lebih  lanjut dilaksanakan asas keterpaduan.

F.       PENDEKATAN DAN TEKNIK
1.       Format lapangan dan Politik
KR menjangkau lapangan permasalahan klien  yang  menjangkau kehidupan keluarga dan terlaksanakan ?politik? yaitu menghubungi  pihak-pihak terkait dengan keluarga.
2.       Materi
Yang perlu diperhatikan saat di hadapan keluarga :
->Tidak melanggar asas kerahasiaan klien
->Semata-mata  untuk memperdalam masalah klien
->Tidak merugikan klien
3.       Peran klien
Menyetujui Kunjungan Rumah yang akan dilakukan klien dan  mempertimbangkan perlu tidaknya ia terlibat   saat kunjungan rumah.
4.       Kegiatan
Melakukan wawancara dan pengamatan dan memeriksa dokumen-dokumen  yang dimiliki keluarga.
5.       Undangan terhadap keluarga
Keluarga dapat diundang ke sekolah sesuai dengan permasalahan klien. Pelaksanaan undangan ini memperhatikan: izin dari klien, perlu dipersiapkan materi pembicaraan dan  peran klien.




G.       OPERASIONALISASI
a.       Perencanaan
Menetapkan kasus yang memerlukan KR, meyakinkan klien akan KR, menyiapkan  data dan informasi yang akan dikomunikasikan dengan keluarga, menetapkan materi KR dan meyiapkan kelengkapan administrasi.


b.       Pelaksanaan
Mengkomunikasikan rencana pelaksanaan KR, melakukan KR berupa:
Bertemu anggota  keluarga (ortu/wali)
Membahas masalah klien
Melengkapi data
Mengembangkan komitmen
Menyelenggarakan konseling keluarga
Merekam dan menyimpulkan hasil KR
c.       Evaluasi
Mengevaluasi proses pelaksanaan KR, mengevaluasi kelengkapan dan keakurautan data hasil KR serta komitmen ortu/wali, mengevaluasi penggunaan data dalam rangka pengentasan  masalah klien.
d.       Analisis  hasil evaluasi
Analisis  terhadap efektifitas penggunaan hasil KR terhadap penanganan kasus.
e.       Tindak lanjut
Mempertimbangkan apakah perlu dilaksanakan KR ulang atau lanjutan dan mempertimbangkan tindak  lanjut layanan dengan menggunakan  hasil KR  yang lebih lengkap dan akurat.
f.        Pelaporan
Menyusun laporan KR,  menyampaikan laporan dan mendokumentasi laporan.